![]() |
| Foto: Banjir Bandang Melanda Desa Bobo (kiri) dan Brayen Putra Lajame (kanan) |
Peristiwa tersebut menyebabkan sebagian wilayah desa terendam air dan merusak sejumlah infrastruktur warga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, derasnya arus air mengakibatkan talud di Sungai Gosora patah.
Selain itu, akses jalan utama yang digunakan warga juga tergenang air dengan ketinggian mencapai kurang lebih satu meter, sehingga aktivitas masyarakat sempat terganggu.
Menanggapi kejadian tersebut, Brayen Lajame menilai bencana yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam biasa.
Ia menyebut banjir bandang itu sebagai “alarm alam” yang harus menjadi perhatian bersama, khususnya terkait rencana operasional perusahaan tambang PT. Karya Tambang Sentosa (PT. KTS) di wilayah tersebut.
Menurut Brayen, rencana eksplorasi dan pembukaan lahan untuk aktivitas pertambangan berpotensi mengancam ekosistem lokal yang selama ini berperan penting sebagai penyangga bencana di kawasan hulu sungai.
“Hutan di kawasan hulu sungai adalah benteng alami kita. Jika perusahaan tambang diperbolehkan membukanya, maka tanah akan mudah longsor dan sungai akan cepat meluap seperti yang terjadi sekarang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa masyarakat Desa Bobo sebenarnya telah menyampaikan berbagai kekhawatiran kepada pihak berwenang sejak tahun lalu, ketika rencana operasional PT. Karya Tambang Sentosa pertama kali diumumkan.
Namun demikian, hingga saat ini masyarakat belum menerima kejelasan terkait evaluasi terhadap izin usaha perusahaan tersebut.
![]() |
| Foto: Anak - Anak desa Bobo, Saat Berada di lokasi banjir |
Brayen juga mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Bobo untuk bersatu menyikapi persoalan tersebut. Ia menilai perlindungan terhadap keselamatan warga dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas bersama.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan di tengah masyarakat merupakan hal yang wajar. Namun, ketika menyangkut keselamatan warga dari potensi bencana alam, menurutnya semua pihak perlu mengesampingkan kepentingan sektoral.
“Sudah saatnya kita menyamakan visi untuk kebaikan bersama. Pemuda, mahasiswa, sarjana, serta tokoh masyarakat perlu bersatu menjaga tanah kita dan menolak kehadiran PT. Karya Tambang Sentosa di Desa Bobo,” tegasnya.(RD/Red)

