KRITIKPOST.ID, HALBAR — Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan PT. Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara.
Penetapan PT. Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang WKP Telaga Ranu ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM. E/2026, tanggal 8 Januari 2026.
Hal itu pun hingga kini menjadi polemik yang hangat didiskusikan dikalangan masyarakat, karena dinilai berpotensi mengancam ekosistem di Telaga Ranu, hingga merampas hak-hak masyarakat setempat.
Menanggapi hal itu, Ketua Pemuda Adat Sahu, Grek Bessy, S.H menilai bahwa kehadiran proyek ini justru akan mengakomodir seluruh hak-hak dan kepentingan masyarakat setempat.
Baginya, hadirnya mega proyek ini berpeluang besar membuka akses infrastruktur, rekrutmen tenaga kerja, dan termasuk peningkatan ekonomi di Kabupaten Halmahera Barat.
"Proyek ini tidak mungkin merampas hak ataupun mengabaikan kepentingan masyarakat, melainkan sangat mementingkan kepentingan masyarakat. Kehadiran proyek ini sebenarnya adalah mimpi nyata masyarakat Halmahera Barat," ucap Grek.
Grek juga menghimbau agar masyarakat jangan cepat-cepat terprovokasi dengan beredarnya statement miring yang sempat dilontarkan beberapa pihak yang menolak kehadiran proyek ini.
"Saya disini ingin menyampaikan bahwa janganlah kita berlebihan sehingga terlalu cepat membuat kesimpulan tanpa ada kajian matang, karena justru itu akan mengabaikan kepentingan masyarakat umum," ujarnya.
Adapun proyek ini dipercaya dapat memberikan manfaat lebih secara teknis, karena tidak mempengaruhi kestabilan iklim, beremisi rendah, dan berkapasitas energi yang tinggi.
Dengan kapasitas di atas 75%, menjadikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) ini rata-rata dapat menyumbang energi aktif hingga lebih dari 18 jam per hari.
Jika dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang kapasitas umumya lebih rendah diangka 10 hingga 14%, atau setara dengan 2 sampai 4 jam per hari.
Selain itu, dari sisi harga juga PLTP ini lebih irit jika dibandingkan dengan PLTU, serta kompetitif untuk peran base load pengganti Batu Bara.
Dengan demikian, "PLTP ini punya nilai tambah yang unik dan sangat baik, serta mampu menjaga stabilitas finansial, juga tentunya dapat mengurangi emisi karbon," tutur Grek.
Mengakhiri komentarnya, Ketua Pemuda Adat Sahu menyampaikan sebuah kalimat dalam bahasa Sahu, "ngomi ne dua aguna moju, nange ne hua aguna moju, mura mala" yang dalam bahasa Indonesia berarti, "kalau bukan kita, siapa lagi? kalau bukan sekarang, kapan lagi?" (Red).
