REKAM jejak Jusuf Kalla dalam menyelesaikan berbagai konflik di Indonesia merupakan warisan kebangsaan yang patut diapresiasi setinggi-tingginya.
Di tengah kompleksitas persoalan sosial dan keberagaman bangsa, kehadiran sosok seperti beliau menjadi bukti bahwa dialog, keberanian moral, dan ketulusan dapat menghadirkan jalan damai di tengah pertikaian.
Bangsa Indonesia seharusnya bersyukur dan bangga memiliki figur negarawan yang tidak hanya berpikir strategis, tetapi juga bertindak nyata dalam merawat persatuan.
Jusuf Kalla telah menunjukkan bahwa perdamaian bukan sekadar wacana, melainkan hasil dari kerja keras, ketekunan, serta kemampuan merangkul semua pihak yang bertikai.
Peran sentral beliau dalam meredam dan menyelesaikan konflik besar seperti Konflik Ambon, Konflik Poso, dan Konflik Aceh menjadi bukti konkret dedikasi tersebut.
Konflik-konflik ini bukan hanya meninggalkan luka sosial, tetapi juga mengancam keutuhan bangsa. Namun melalui pendekatan dialogis, negosiasi yang intens, serta keberanian mengambil risiko, Jusuf Kalla berhasil menghadirkan titik temu yang mengakhiri pertikaian.
Kita patut merenungkan: bagaimana kondisi daerah-daerah tersebut hari ini jika tidak ada peran Jusuf Kalla dalam proses perdamaian? Bisa jadi konflik berkepanjangan masih terjadi, atau bahkan meninggalkan kehancuran yang lebih luas.
Karena itu, kontribusi beliau bukan hanya menyelesaikan konflik sesaat, tetapi juga meletakkan fondasi perdamaian jangka panjang.
Sebagai anak Maluku, rasa bangga terhadap sosok Jusuf Kalla tentu memiliki makna yang sangat personal dan mendalam.
Perdamaian di Maluku hari ini tidak dapat dilepaskan dari peran besar beliau dalam menjembatani pihak-pihak yang bertikai.
Tanpa upaya tersebut, bukan tidak mungkin Maluku masih berada dalam bayang-bayang konflik dan ketidakpastian.
Dalam konteks itu, sangat disayangkan apabila terdapat pihak-pihak yang tidak memahami substansi ceramah, rekam jejak, serta perjuangan beliau, lalu dengan mudah mempolitisasi pernyataan-pernyataan yang disampaikan.
Perlu ditegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Jusuf Kalla merupakan refleksi dari pengalaman empirik serta fakta sosiologis yang pernah terjadi dalam konflik SARA, khususnya di Ambon dan Poso.
Pernyataan tersebut hendaknya dipahami sebagai upaya edukatif dan reflektif, bukan sebagai bentuk provokasi atau upaya menyudutkan kelompok tertentu.
Di tengah tantangan bangsa yang masih rentan terhadap konflik horizontal, nilai-nilai yang diwariskan oleh Jusuf Kalla menjadi semakin relevan.
Semangat dialog, toleransi, dan persatuan harus terus dijaga dan dilestarikan oleh seluruh elemen bangsa.
Perdamaian bukan hanya tanggung jawab tokoh tertentu, tetapi merupakan komitmen bersama seluruh anak bangsa.
Akhirnya, kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan perdamaian ini. Jangan biarkan narasi yang menyesatkan merusak persatuan yang telah dibangun dengan susah payah.
Mari kita rawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan harmonis.
Salam Toleransi!
Penulis: Korneles Galanjinjinay (Ketua Umum GMKI 2018–2020/Wakil Ketua Umum Parkindo 2021–2026)
