![]() |
| Foto: Aktivitas laut dipulau Batang Dua (kiri) dan Jesen Manyira (kanan) |
Kondisi ini dinilai menghambat aktivitas transportasi dan keselamatan warga yang sepenuhnya bergantung pada jalur laut.
Sekretaris Fungsi Gereja Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ternate, Jesen Manyira, menegaskan pemerintah daerah seharusnya telah menemukan solusi pembangunan dermaga, khususnya di Pulau Mayau.
Ia menyoroti sejumlah insiden kecelakaan yang terjadi saat warga menggunakan perahu kecil untuk mengambil barang maupun menjemput penumpang dari kapal yang berlabuh di perairan sekitar pulau.
“Dermaga merupakan kebutuhan mendasar masyarakat Batang Dua. Ketika masyarakat harus naik turun perahu di tengah gelombang, risiko kecelakaan sangat tinggi,” ujar Jesen dalam keterangan resminya kepada wartawan media Kritikpost.id, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan pembangunan dermaga dilakukan dengan konstruksi yang kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem serta gelombang tinggi.
Hal ini penting agar fasilitas tersebut dapat berfungsi optimal dan berkelanjutan dalam menunjang mobilitas serta kesejahteraan warga.
Selain persoalan dermaga, Jesen juga menyoroti mahalnya biaya layanan ambulans laut “BAHIM” yang semakin membebani masyarakat ketika membutuhkan rujukan medis darurat ke wilayah utama Kota Ternate.
Ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah taktis sebelum terjadi dampak yang lebih serius.
Jika dalam periode pemerintahan saat ini tidak ada solusi nyata bagi Pulau Batang Dua, khususnya Pulau Mayau, masyarakat mengancam akan memboikot seluruh aktivitas politik di wilayah tersebut.
Jesen menilai visi–misi “Ternate Andalan” yang diusung Wali Kota Tauhid Soleman bersama Wakil Wali Kota Nasri Abubakar belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat di Pulau Batang Dua.
“Kami berharap pemerintah benar-benar hadir dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses transportasi dan layanan dasar,” tegasnya.(RD/Red)
