Rindu, Angkringan, dan Kenangan: Catatan Reflektif TAB VI di Yogyakarta

Editor: Kritikpost.id

Foto: Istimewa.

Ketika Langkah Pertama Menyentuh Yogyakarta

Ada sesuatu yang berbeda ketika langkah pertama saya menjejak tanah Yogyakarta. Udara pasca hujan sore itu menyambut dengan lembut seakan berkata, “selamat datang,” sebelum apa pun benar-benar dimulai. Rindu yang muncul bukan hanya pada tempat, tetapi pada kemungkinan-kemungkinan baru, pada perjumpaan yang belum terjadi, pada cerita yang menunggu untuk diberi ruang, dan pada pengalaman yang kelak membentuk kenangan. Ketika bertemu dengan rombongan TAB VI yang memulai perjalanan sejak 23–29 November 2025, saya menyadari bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang membayangkan bahwa satu minggu itu akan membuka ruang batin yang selama ini terabaikan.

Dalam perjalanan menuju kota istimewa ini, saya sempat bertanya, apa sesungguhnya yang saya cari? Apakah ada ruang yang hendak dipulihkan? Ataukah ada rindu yang ingin saya bereskan? Yogyakarta memang tidak pernah memberi jawaban secara langsung. Ia hanya membuka pintu, lalu membiarkan kami melangkah sambil menemukan bahwa perjalanan sering kali bukan soal jarak, tetapi tentang apa yang kembali bergerak di dalam diri.

Ruang Belajar dan Perjumpaan

Yogyakarta dan Institut Dian/Interfidei tidak dipilih secara kebetulan. Panitia TAB VI tampaknya telah membayangkan kota ini sebagai ruang belajar yang aman, ramah, dan kaya simbol kebudayaan. Interfidei, sebagai lembaga yang puluhan tahun mengusahakan dialog lintas iman, menjadi tempat yang tepat untuk menghadirkan perjumpaan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. TAB VI sendiri merupakan ruang di mana keberagaman tidak hanya dibahas, tetapi dihidupi secara langsung. Di kota ini, saya menyadari bahwa memahami perbedaan tidak cukup berhenti pada konsep, ia membutuhkan pengalaman nyata untuk menjadi pemahaman yang utuh.

Sejak hari pertama, suasana TAB VI terasa berbeda. Ruang utama Rumah Pembawa Damai dipenuhi aksen, ekspresi, dan karakter yang sangat beragam. Doa pembukaan yang dipimpin bergantian oleh peserta dari tradisi agama yang berbeda menciptakan suasana hangat sebuah pengingat bahwa forum ini bukan tempat memperdebatkan identitas, tetapi ruang untuk saling mendengar. Sambutan dari stakeholder setempat, Sekretaris Umum PGI, dan Direktur Interfidei menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar program rutin, tetapi kerja kolaboratif yang bertujuan membentuk cara pandang generasi muda terhadap keberagaman bangsa.

Belajar tentang Kebhinekaan dan Budaya Yogyakarta

Sesi materi pertama menyoroti peran PGI dalam isu-isu kebangsaan serta dinamika kebhinekaan di Indonesia. Para peserta menyimak dengan serius ketika pembicara mengulas identitas, konflik sosial, dan tantangan intoleransi yang masih terjadi. Diskusi yang muncul tidak hanya menunjukkan kepedulian, tetapi juga kesadaran bahwa menjaga keberagaman adalah tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda.

Materi berikutnya membawa kami menyelami karakter masyarakat Yogyakarta. Bagaimana tradisi dirawat, bagaimana kebiasaan hidup sehari-hari dibentuk oleh sejarah panjang kota ini, dan bagaimana budaya menjadi bagian dari keseharian mereka. Penjelasan itu membuka cara pandang kami bahwa keberagaman budaya bukan hanya cerita pariwisata, melainkan realitas sosial yang membentuk interaksi masyarakat.

Team Building: Menguji Kepercayaan dan Kerjasama Tim

Setelah sesi materi hari pertama selesai, kami diarahkan untuk mengikuti serangkaian permainan team building di halaman Rumah Pembawa Damai. Momen ini menjadi titik awal kami belajar melebur dalam keberagaman. Mulai dari membangun menara gelas plastik hingga memindahkan air menggunakan gelas yang digigit, permainan-permainan itu tampak sederhana namun menguji kesabaran, kepercayaan, dan kesanggupan membaca ritme satu sama lain. Permainan balon berisi air juga mengingatkan kami bahwa sesuatu yang tampak rumit bisa menjadi mudah ketika dilakukan bersama-sama. Permainan ranjang tali “memaksa” kami bekerja sebagai satu kesatuan yang saling mendorong, memberi dukungan melalui teriakan yang kedengaran keras, sementara permainan terakhir menghubungkan barang-barang pribadi menjadi satu rangkaian panjang, menghadirkan simbol konkret tentang bagaimana perbedaan dapat terhubung ketika ada tujuan bersama yang ingin dicapai.

Di penghujung hari itu, saat matahari jatuh di balik pepohonan desa Banteng, kami merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar keakraban. Ada penghargaan baru terhadap perbedaan, penerimaan yang lebih lapang terhadap diri sendiri, dan kesadaran bahwa perjalanan ini sedang membentuk kami menjadi kelompok yang saling menopang dengan berbagai keberagaman yang ada.

Analisis Sosial: Dari Asumsi Menuju Kesadaran Baru

Hari kedua diisi dengan sesi mengudar asumsi dan analisis sosial menggunakan model Iceberg, sebuah pendekatan yang mengajak kami untuk melihat persoalan jauh melampaui gejala yang tampak di permukaan (fenomena gunung es). Sejak awal, ditegaskan bahwa banyak isu bangsa yang selama ini kita bicarakan hanya pada level “peristiwa”, padahal kekuatan sesungguhnya justru berada pada pola, struktur, hingga paradigma yang mengendalikannya.

Dengan pembagian menjadi enam kelompok kecil, kami diminta memilih isu, mengumpulkan data yang relevan, lalu membedahnya sedikit demi sedikit hingga menemukan akar permasalahan yang selama ini tersembunyi. Tema-tema yang diangkat sangat beragam mulai dari kelompok yang menyoroti mikroplastik dalam tubuh manusia, di mana membuka percakapan serius tentang kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan publik. Kelompok lain membedah human trafficking, menghadirkan data yang cukup menggetarkan karena menyangkut eksploitasi manusia yang masih terjadi di banyak wilayah Indonesia. Ada juga yang membahas diskriminasi gender dan kelompok minoritas, mengingatkan kami bahwa ketidakadilan sosial sering lahir dari norma dan struktur yang diwariskan turun-temurun. Ada juga kelompok yang menyoroti isu Pariban dalam budaya Batak, fenomena Kawin Tangkap di Sumba, serta kerusakan lingkungan di Kalimantan Selatan menjadi contoh nyata bagaimana budaya, kebiasaan, dan sistem ekonomi bisa berkelindan menciptakan masalah yang sangat kompleks.

Disesi ini kami mulai menghubungkan data dengan pengalaman daerah masing-masing, saya melihat bagaimana kesadaran tumbuh pelan-pelan. Ada yang terdiam karena kaget, ada yang sedih, dan ada pula yang tampak marah namun sekaligus terdorong untuk bertindak. Pada titik itu, saya merasakan bahwa sesi ini bukan hanya latihan intelektual, tetapi undangan untuk mengasah empati dan keberanian moral. Analisis sosial ini membuka kesadaran bersama bahwa persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan hanya dengan opini atau asumsi, tetapi dengan pemahaman yang jernih tentang akar masalah serta komitmen untuk bergerak secara bersama.

Workshop Film Dokumenter: Belajar Melihat dengan Kepekaan

Tiga hari berikutnya menjadi ruang paling intens dan penuh warna. Workshop film dokumenter membuka kesempatan bagi kami belajar melihat kehidupan melalui lensa yang berbeda. Narasumber menekankan bahwa dokumenter bukan hanya soal teknik, tetapi kepekaan menangkap realitas. Peserta belajar menulis premis, menentukan fokus cerita, hingga memahami bagaimana gambar bekerja sebagai bahasa.

Ketika proses pengambilan gambar dimulai, suasana kegiatan berubah drastis. Para peserta tampak bergerak gesit membawa kamera, tripod, dan buku catatan, seolah seluruh sudut Yogyakarta mendadak menjadi ruang belajar yang tak terbatas. Setiap kelompok menyisir titik-titik perjumpaan yang telah ditentukan, lalu mulai merekam apa pun yang mereka anggap penting. Ada kelompok yang menuju Candi Sapta Rengga, bertemu para penghayat Sapta Dharma dan mencoba menangkap bagaimana mereka memaknai spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok lain melangkah ke GPIB Marga Mulya untuk mendokumentasikan persoalan aksesibilitas dan keterbatasan ruang parkir yang dialami jemaat setiap kali beribadah. Ada pula yang berkunjung ke Pusat Rehabilitasi Yakkum, mendengar langsung bagaimana para pendidik menghadapi siswa dengan latar belakang kemampuan yang beragam.

Di sisi lain, kelompok yang tiba di SLB Bina Siwi menemukan dunia yang penuh warna. Mereka menyaksikan bagaimana sekolah ini membuka ruang luas bagi peserta didiknya untuk mengembangkan minat dan bakat, mulai dari musik, angklung, drumband, memasak, hingga keterampilan menjahit. Pendekatan ini memberi gambaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang cara mempersiapkan anak-anak agar kelak mampu hidup mandiri dengan keterampilan yang mereka bangun sejak sekolah. Sementara itu, kelompok yang berdialog dengan Beranda Migran membongkar kisah yang jauh lebih kelam, yakni praktik scam di Kamboja yang menjerat banyak pekerja migran Indonesia melalui skema penipuan yang rapi dan sistematis.

Di tengah semua perjumpaan ini, saya menyadari bahwa sesi pengambilan gambar bukan sekadar latihan teknis. Ada proses pendewasaan yang berjalan perlahan: bagaimana peserta belajar membaca tanda-tanda sosial, menangkap ekspresi manusia, dan memahami keresahan yang tidak selalu terlihat pada pandangan pertama. Yogyakarta tidak lagi hadir sebagai kota wisata, melainkan sebagai lanskap sosial yang memantulkan harapan, perjuangan, dan kenyataan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas warganya.

Jejak-jejak yang Kita Bawa Pulang

Dari perjalanan ini, kami pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan, seolah lima hari kebersamaan itu meninggalkan ruang baru di dalam diri kami. Kami belajar bahwa hidup tidak pernah hanya diisi oleh hal-hal yang ringan, tetapi juga oleh beban-beban kecil yang diam-diam membentuk keberanian, ketabahan, dan cara kami memandang orang lain. Selama proses ini, kami melihat bagaimana perjumpaan yang tulus dapat mengubah seseorang: bagaimana obrolan singkat bisa membuka cakrawala baru, bagaimana tawa bersama dapat mencairkan sekat-sekat lama, dan bagaimana mendengar cerita orang lain dapat membuat kami lebih memahami diri sendiri.

TAB VI memberi kami kesempatan untuk duduk satu meja dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kami kenal. Mereka datang dari latar pendidikan yang berbeda, dari suku, bahasa, tradisi, dan keyakinan yang beragam. Namun di ruang yang sama, perbedaan itu justru menjadi jembatan yang menghubungkan kami. Di antara dinamika diskusi, kerja kelompok, dan proses membuat film dokumenter, saya merasakan bahwa keberagaman bukan sekadar tema, melainkan pengalaman hidup yang kami alami secara langsung. Kami belajar bahwa memahami orang lain bukan tentang menyamakan pandangan, tetapi tentang memberi ruang agar pengalaman mereka menemukan tempat dalam diri kami.

Ada momen-momen yang melintasi batas rasional kami ketika seseorang yang tiba-tiba merasa menemukan saudara baru, seseorang yang merasakan getaran pertemuan yang tidak terduga, dan ada pula yang belajar melepaskan rasa nyaman yang muncul terlalu cepat. Ketika malam perpisahan datang, beberapa dari kami menahan emosi yang tak sempat diucapkan, sebagian dari kami memilih tinggal lebih lama hanya untuk memastikan bahwa kenangan itu tidak hilang begitu saja, dan sebagian lagi berjalan pulang dengan harapan kecil agar lingkaran ini tetap bertahan, meski jarak akan kembali membentang.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa setiap perjumpaan meninggalkan jejaknya sendiri. Yogyakarta mungkin dikenal kebanyakan orang sebagai kota yang terbuat dari rindu dan angkringan, tetapi setelah TAB VI, Yogyakarta kembali menjelma menjadi ruang kenangan. Tempat di mana kami belajar memandang kehidupan dengan hati yang lebih lembut dan pikiran yang lebih terbuka. Keberagaman tidak lagi berhenti sebagai wacana, tapi menjadi pengalaman hidup yang kami bawa pulang, menempel pada langkah kaki kami, dan mengingatkan bahwa manusia bertumbuh justru ketika berani berjumpa dengan yang berbeda.

 Penulis: Jeane PL

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Copyright © 2021 KritikPost.id | Powered By PT. CORONGTIMUR MEDIA GRUP - All Right Reserved.