Kartini dan Upacara yang Mengkhianati Makna

Editor: Redaksi
Raden Adjeng Kartini (FOTO : Istimewah)
Nama Raden Ajeng Kartini dirayakan megah, sementara kekuasaan menutup mata pada ketidakadilan yang ia lawan.

Setiap tanggal 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali dihadirkan dalam upacara, pidato, dan simbol-simbol penghormatan. Namun, di balik gema seremoni itu, terselip pertanyaan sunyi yang jarang disentuh: apakah gagasan emansipasi benar-benar hidup, atau hanya dijadikan hiasan moral bagi kekuasaan yang enggan berubah. Kartini tidak pernah sekadar ingin dikenang, ia menuntut perubahan yang nyata dan keberanian yang radikal.

Kartini menulis dalam kegelisahan, bukan dalam kenyamanan. Ia mempertanyakan struktur yang membatasi perempuan, pendidikan, dan kebebasan berpikir. Tetapi hari ini, kegelisahan itu justru dijinakkan menjadi narasi aman. Kekuasaan mereduksi Kartini menjadi ikon yang tidak mengganggu, sosok yang dipuja tetapi tidak diikuti. Di sinilah ironi dimulai, ketika pemikiran yang lahir dari perlawanan justru dipelihara dalam ruang steril tanpa daya gugat.

Dalam kerangka filsafat, peringatan yang kehilangan makna adalah bentuk alienasi. Kartini terasing dari gagasannya sendiri, dijauhkan dari konteks sosial yang melahirkannya. Ia menjadi simbol kosong yang mudah diulang tanpa refleksi. Kekuasaan memanfaatkan jarak ini untuk mempertahankan status quo, karena simbol yang tidak dipahami jauh lebih aman daripada gagasan yang dapat mengguncang fondasi ketidakadilan yang masih bertahan hingga hari ini.

Ada paradoks yang terus berulang: semakin sering Kartini dirayakan, semakin kabur esensi perjuangannya. Seremoni menggantikan refleksi, retorika mengalahkan tindakan. Dalam banyak kebijakan, perempuan masih berada dalam posisi rentan, terpinggirkan, atau sekadar dijadikan angka statistik. Tetapi dalam panggung resmi, semua tampak seolah telah selesai. Kekuasaan menciptakan ilusi kemajuan, sementara realitas berbicara sebaliknya dengan suara yang pelan namun tegas.

Filsafat mengajarkan bahwa makna lahir dari praksis, bukan sekadar simbol. Kartini memahami hal ini jauh sebelum istilah itu populer. Ia menulis, berpikir, dan melawan dengan cara yang tersedia baginya. Namun hari ini, praksis digantikan oleh perayaan. Kekuasaan lebih nyaman mengulang kata-kata daripada menghadapi konsekuensi perubahan. Di sinilah Kartini kembali menjadi sunyi, karena tindakannya tidak benar-benar dilanjutkan dalam kebijakan nyata.

Kekuasaan modern sering kali bekerja melalui estetika, bukan substansi. Hari Kartini dihias dengan busana, lomba, dan narasi inspiratif yang indah dipandang. Namun keindahan itu menyembunyikan ketimpangan yang belum selesai. Perempuan di banyak tempat masih berjuang untuk akses pendidikan, perlindungan, dan ruang suara. Tetapi estetika perayaan membuat semua tampak harmonis, seolah luka sosial dapat disembuhkan dengan simbol semata.

Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, ia adalah kritik yang terus hidup. Namun kritik selalu tidak nyaman bagi kekuasaan. Karena itu, cara paling efektif untuk menetralkannya adalah dengan menjadikannya tradisi. Tradisi cenderung diulang tanpa dipertanyakan. Dengan demikian, Kartini tidak lagi menjadi ancaman, melainkan bagian dari ritual yang justru mengukuhkan keadaan yang ia coba ubah.

Dalam perspektif eksistensial, manusia dituntut untuk otentik terhadap nilai yang ia yakini. Kartini menunjukkan otentisitas itu melalui keberanian berpikir dan menulis. Tetapi hari ini, otentisitas sering digantikan oleh kepatuhan pada narasi resmi. Kekuasaan menciptakan definisi emansipasi yang aman, yang tidak mengguncang struktur. Akibatnya, kebebasan menjadi konsep yang dipersempit, bukan diperluas seperti yang diimpikan Kartini.

Ketika simbol lebih dominan daripada realitas, masyarakat perlahan kehilangan kepekaan. Mereka terbiasa melihat perayaan sebagai bukti kemajuan, tanpa menelusuri apakah perubahan benar-benar terjadi. Kartini dijadikan legitimasi moral, seolah dengan merayakannya, kewajiban telah selesai. Padahal, peringatan seharusnya menjadi pengingat akan pekerjaan yang belum tuntas, bukan alasan untuk merasa puas.

Kekuasaan memiliki kecenderungan untuk mengontrol narasi. Dalam konteks ini, Kartini diposisikan sebagai figur yang tidak kontroversial. Padahal, dalam zamannya, ia adalah suara yang berani dan melawan arus. Penghilangan sisi radikal ini adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Ia membuat generasi hari ini kehilangan akses terhadap esensi keberanian yang seharusnya diwariskan.

Filsafat politik mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kritik akan cenderung stagnan. Kartini adalah bentuk kritik terhadap stagnasi itu. Namun ketika kritik dibungkus menjadi seremoni, daya dorongnya hilang. Kekuasaan tidak lagi merasa terancam, karena perlawanan telah dijinakkan. Di titik ini, peringatan berubah fungsi dari alat refleksi menjadi alat legitimasi.

Ada kesedihan yang tidak selalu terlihat dalam perayaan. Kesedihan itu muncul dari jarak antara ideal dan kenyataan. Kartini membayangkan dunia yang lebih adil, lebih terbuka, dan lebih manusiawi. Namun hari ini, banyak dari cita-cita itu masih berada dalam proses panjang. Ketika perayaan berlangsung tanpa refleksi, kesedihan itu semakin dalam, karena harapan seolah digantikan oleh kepura-puraan kolektif.

Ironi terbesar adalah ketika kekuasaan menggunakan Kartini sebagai simbol kemajuan, tetapi enggan mendengar suara perempuan yang masih berjuang. Ada jurang antara retorika dan realitas. Kartini seolah hadir di panggung, tetapi absen dalam kebijakan. Ini adalah bentuk pengkhianatan yang halus, karena dilakukan dengan bahasa penghormatan, bukan penolakan terbuka.

Dalam kerangka etika, penghormatan sejati bukan terletak pada perayaan, tetapi pada keberlanjutan nilai. Kartini tidak membutuhkan seremoni megah, ia membutuhkan keberanian kolektif untuk melanjutkan perjuangannya. Tanpa itu, setiap peringatan hanya menjadi pengulangan tanpa makna. Kekuasaan mungkin merasa telah melakukan kewajiban, tetapi sejarah mencatat lebih dari sekadar simbol.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Kartini adalah pertanyaan tentang kita sendiri. Apakah kita berani melampaui simbol dan menghadapi realitas, atau memilih kenyamanan dalam perayaan yang kosong. Nama Raden Ajeng Kartini akan terus diingat, tetapi maknanya hanya akan hidup jika diperjuangkan. Tanpa itu, ia akan tetap menjadi cahaya yang dikhianati oleh bayang-bayang yang kita biarkan tumbuh.

Oleh : Aburizal Kamarullah
(Aktivis lingkungan dan Inisiator Forest Wacth Malut)
Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Copyright © 2021 KritikPost.id | Powered By PT. CORONGTIMUR MEDIA GRUP - All Right Reserved.