SUARA toleransi sekarang itu seperti "pamflet" yang didesain dengan rapi dan bagus tapi motifnya adalah "like".
Memang ini ironis, tapi pemangku kepentingan biasanya suka memanfaatkan kecemasan dan kekhawatiran atau sesuatu yang sensitif dari masyarakat.
Sehingga dengan situasi itu, mungkinkah semua kejadian intoleran itu didesain?
Agama memiliki peran penting dalam membangun kerukunan, karena seperti pengertian dasarnya; agama artinya "tidak kacau" tapi kenapa perilaku intoleran selalu terjadi pada peristiwa-peristiwa keagamaan?
Ini bukan dalam rangka menghubung-hubungkan, tapi dalam sejarah peristiwa intoleran dihalmahera, itulah yang terjadi.
Ada "suhu" politik yang terlalu dominan dalam agama. Dan "suhu" ini biasanya masuk melaui "amplop" atau "jabatan".
Ini bukan tanpa sebab, dalam politik "ruang agama" dipercaya sebagai tempat "berternak" suara yang paling aman. Mudah diatur, diarahkan bahkan dikendalikan.
Suhu politik yang masuk dalam agama selalu memiliki pemeran utama atau tokoh.
Sang tokoh ini biasanya tidak bole dikritik, kalau tidak anda tidak akan mendapatkan "amplop" atau "jabatan". Dia hanya dibela dengan segala cara.
Memang ini salah satu budaya busuk kita, kita membiarkan amplop atau jabatan sebagai pengendali bahkan seluruh hidup kita.
Ini bahkan bisa memicu permusuhan antar kelompok. Tapi anehnya kenapa agama terlena dengan semua itu?
Bahkan sebagai orang-orang beragama kita terpengaruh melakukan perbuatan intoleran karena atas dasar itu; "amplop" atau "jabatan". Lalu di "goreng" menjadi "masalah agama."
Keadaan intoleran seperti "itu" selalu menibahkan kepalsuan toleransi. Perdamaian tidak akan tercipta bila pemimpin-pemimpin agama yang berbeda bertemu dalam upaya menyelesaikan masalah.
Perlu orang ketiga dari "unsur politik". Dan ajaibnya orang ketiga ini biasanya hanya berbicara "biasa" tapi langsung teduh dan mereka para "pengacau" yang "berkelahi" mau damai.
Kelihatannya "amplop" dan "jabatan" telah menyelesaikan akar masalahnya dibalik "layar".
Kerukunan antar umat beragama seharusnya tetap. Ini dimulai dengan "kejujuran" beragama.
Kita tidak bole membiarkan ruang-ruang agama menjadi "cuci tangan" politik, apalagi "meja makan" politik.
Setiap tokoh politik yang "masuk" dalam ruang agama seharusnya "disucikan" bukan justeru mereka yang mengendalikannya.
Orang-orang beragama harus tiba sebagai pembeda. Rasa kemanusiaan tidak bole dikalahkan oleh amplop dan jabatan.
Penulis: Afroliks Falajawa
