![]() |
| Foto: Sefnat Tagaku, S.Th (Sekretaris DPC GAMKI Halsel) |
Oleh : Sefnat Tagaku, S.Th (Sekretaris DPC GAMKI Halsel)
TULISAN ini saya buat disaat dalam perjalanan menuju kampung halaman, desa Lalubi, Kecamatan Gane Timur, Halmahera Selatan, membelah lautan Halmahera, menggunakan kapal Veri bersama anak saya (Alfero) untuk menjenguk keluarga di suasana tahun baru.
Pun, sebagai catatan penguatan untuk istri tercinta atas peristiwa iman di dua bulan lalu, dimana Tuhan menyatakan kemahakuasaan-Nya dalam kehidupan keluarga kami melalui memanggil pulang mama (ibu dari istri saya) kepangkuan Allah.
Peristiwa yang begitu pilu, apalagi menjelang natal 2025 dan menyambut tahun baru 2026. Tentu merubah suasana rumah dan hati.
Namun mesti ini dijadikan sebagai refleksi hidup yang sebenarnya, bahwa kematian merupakan wujud Kasih Allah yang sesungguhnya. Karena itu, catatan ini mengupayakan untuk dapat memberikan pemahaman dalam memahami KASIH ALLAH.
Memahami Kasih Allah : Belajar dari Kisah Margareth Fishback Powers
Kita baru saja meninggalkan tahun 2025, dan memasuki tahun baru, 2026. Tentu ada banyak cerita dengan segala dinamikanya yang kita alami disepanjang tahun 2025, bahkan dalam historis perjalanan itu terkadang membuat kita merasa putus asa karena kegagalan, masalah, atau berduka oleh karena kehilangan orang-orang yang kita kasih.
Lalu ada pertanyaan dalam situasi itu, Tuhan dimana? Mengapa disaat kondisi yang sulit dan mengerikan justru seolah Tuhan tidak ada?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah hati, sekaligus membutuhkan pernyataan iman yang dapat menyentuh gambaran hidup diatas.
Pada titik ini, penulis hendak ingin kembali menceritakan kisah Margareth Fishback Powers, seorang penulis puisi yang terkenal, juga seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Salah satu karyanya yang menyayat hati berjudul : "Footprints" (Jejak). Puisi ini berisi perjalanan hidupnya.
Dalam kehidupannya, Margareth banyak mengalami peristiwa iman yang begitu memposisikannya pada posisi paling rendah.
Pernah didiskriminasi saat masih bersekolah karena berlogat Jerman ditengah panasnya perang dunia ke-II, bahkan dalam pengalamannya menjadi seorang guru, iya pernah disambar petir saat mengajar.
Namun dalam banyak peristiwa iman itu, ada hikmah yang dapat kita pelajari untuk memahami 'KASIH' Allah.
Suatu saat, Margareth bermimpi yang membawanya disebuah pantai. Sepanjang memandang bibir pantai itu, Margareth menemukan ada jejak dua pasang kaki.
Ternyata dua pasangan kaki itu adalah miliknya dan Tuhan. Jejak kaki itu selalu bersamaan dan tidak pernah putus. Margareth menikmati pandangan itu sambil melihat apa saja yang telah dialaminya bersama Tuhan. Namun pada perjalanannya yang lebih panjang, iya hanya menemukan satu pasang kaki dan satunya lagi hilang.
Margareth, lalu melihat peristiwa hidupnya disepanjang bibir pantai yang hanya ada satu pasang jejak kaki di pasir itu. Ternyata, diposisi itu Margareth banyak menemukan pergumulan hidup yang berat. Mulai dari menghadapi suaminya yang sakit, hingga kehilangan seorang muridnya akibat peristiwa petir diruang kelas tempatnya mengajar.
Lalu sambil meneteskan air mata, Margareth bertanya dengan penuh emosional, "Tuhan, mengapa dikondisi dan situasi yang sulit itu Engkau meninggalkan aku?".
Lalu ada suara Tuhan menjawab melalui mimpinya itu, "anak Ku Margareth, Aku sama sekali tidak meninggalkan engkau dalam situasi yang mengerikan sekalipun". Kata Margareth membantah, "lalu kenapa hanya ada satu pasang kaki pada situasi yang sulit itu?". Kata Tuhan, "Margareth, satu pasang kaki yang kau temukan saat situasi mu lagi terpuruk itu bukan milikmu, tapi milik Aku. Saat itu Aku sedang memeluk dan menggendong mu. Sebabnya, hanya ada satu pasang kaki pada kondisimu seperti itu".
Cerita Margareth diatas, memberi pesan iman bagi kita semua terkhusus istri tercinta yang tengah menghadapi duka atas kepergian mama terkasih, bahwa dalam kehidupan ini ada banyak hal yang tentu kita hadapi.
Suka dan duka, sedih dan bahagia, bahkan situasi yang mungkin terkadang membuat kita hampir menyerah dan pasrah. Namun ketahuilah, bahwa disetiap ruang kehidupan dengan situasi terpuruk sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia (Tuhan) bahkan menggendong dan memeluk kita.
Karena itu, jika kita boleh sampai di tahun 2026 dan meninggalkan cerita dengan banyak dinamikanya pada tahun 2025, kita mesti mensyukuri dan sadar itu semua atas kemurahan Tuhan.
Sembari percaya, bahwa jika Tuhan boleh mengijinkan banyak masalah, kegagalan bahkan duka terjadi ditengah-tengah kehidupan kita, maka Ia akan selalu menyertai dan menggantikannya dengan sukacita. Tuhan menolong kita! (Red)
